Orang Indonesia Yang Menjadi Pahlawan di Negeri Belanda

Orang Indonesia Yang Menjadi Pahlawan di Negeri Belanda

Orang-orang Indonesia yang pernah berjuang untuk kebebasan Belanda dari pendudukan Jerman. @Doc. Nino Oktorino, dalam buku  Nazi di Indonesia – Sebuah Sejarah Yang Terlupakan.
Pada saat Jerman menduduki Belanda, di sana ada terdapat orang Indonesia yang hidup kurang lebih sekitar 800 orang. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang berasal dari Pulau Jawa, dan sisanya dari Pulau Sumatera, Maluku (Ambon), dan pulau-pulau di Indonesia lainnya. Mereka yang ada di sana kebanyakan bekerja sebagai pelajar, pelaut, seniman, dan pembantu. Kehidupan mereka di negeri yang dijuluki Kincir Angin tersebut begitu sengsara, mulai dari kekurangan kedinginan, kekurangan makanan, diserang penyakit atau tewas ditangan rezim yang berkuasa. Selama perang berlangsung, diperkirakan sebanyak 86 orang Indonesia atau lebih dari 10 persen meninggal dunia di Belanda.

Meskipun bukan di negeri sendiri, pada masa perlawanan Belanda terhadap pendudukan Nazi (Jerman), ada banyak orang Indonesia yang terlibat dalam melakukan perlawanan. Sebagaimana layaknya penduduk lokal yang sedang berjuang mempertahankan negerinya dari penjajah. Mereka yang terlibat dan didemobilisasi setelah pendudukan, sebagian besar merupakan bekas kader di Royal Military Academie (KMA) di Breda. Salah satunya bernama Eduard Alexander Latuperisa, bekas seorang kapten Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) atau tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Eduard Alexander Latuperisa merupakan orang Indonesia asli bersuku Ambon yang lahir di Kudus, Jawa Tengah, 9 April 1902. Dia diterima sebagai pasukan infanteri pada tahun 1924 di Hoofdcrusus yang pada saat itu berada di Breda yang sebelumnya berada di Kampen. Selama kurang lebih 4 tahun dia mendapatkan pendidikan militer di KMA Breda, dan pada tahun 1926 dia lulus dengan pangkat letnan dua. Sejak saat itu, dia bertugas sebagai tentara dari Kerajaan Hindia Belanda hingga mencapai pangkat kapten.

Pada tahun 1939, Eduard Alexander Latuperisa yang telah berusia 37 tahun kembali lagi datang ke Belanda bersama anak dan istrinya. Tujuannya hanya untuk menimba ilmu militer mengikuti sekolah lanjutan perwira sekelas Hogare Krijg School. Belum genap setahun di Belanda, Jerman datang menyerbu negeri tersebut sehingga Eduard memilih untuk kembali ke Hindia Belanda (Indonesia). Sekembalinya dari Belanda, Eduard memilih bergabung dengan Orde Dienst (OD) alias badan ketertiban yang anggotanya adalah bekas militer Belanda. 

Eduard Alexander Latuperisa yang tergabung dalam satuan Orde Dienst (OD), biasanya bergeraka dengan melakukan sabotase dan spionase. Akan tetapi, lama kelamaan satuan ini disusupi musuh, sehingga para anggotanya kemudian ditangkap oleh tentara Nazi Jerman dan Eduard Alexander Latuperisa ditangkap pada Maret 1942. Selama setahun ditawan, Eduard Alexander Latuperisa kemudian dieksekusi Gestapo pada tanggal 29 Juli 1943, di Leusderheide.

Harry Albert Poeze dalam bukunya yang berjudul Di Negeri Penjajah (2008) menuliskan, “Di antara mereka adalah Latuperisa yang tugasnya mengorganisasi para kadet KMA dan melakukan transaksi senjata. Tanggal 13 Maret 1942 dia ditahan. Seratus anggota OD pilihan diadili pada Maret-April 1943 di kampung Haaren. Latuperisa, 41 tahun, dijatuhi hukuman mati, dan bersama 16 orang rekannya, ia ditembak mati tanggal 29 Juli 1943 di Leusderheide.”

Orang Indonesia yang juga terlibat dalam perlawanan Belanda terhadap pendudukan Jerman bukan hanya Eduard Alexander Latuperisa. Para pelajar terutama bekas dari anggota Perhimpunan Indonesia (PI) yang berada di sana, juga menjadi kelompok utama dan berkolaborasi dengan kelompok-kelompok gerakan perlawanan Belanda. Pergerakan yang mereka berupa terlibat dalam aktivitas membantu penyelamatan orang Yahudi maupun Belanda yang diburu oleh tentara Nazi Jerman, selain dari pada menerbitkan tulisan selebaran ilegal dan menghimpun informasi. Adapun beberapa para pelajar yang terlibat di antaranya, dua orang bersaudari yakni Miri dan Emi Freibrun, Rachmad Kusumobroto bersama tunangannya Petronella Nel van den Bergh yang kemudian ditangkap serta dibunuh oleh tentara Nazi. Sehubungan dengan itu, perlawanan bersenjata juga digerakkan oleh anggota PI, salah satunya Jusuf Mudadalam yang bergabung dengan K.P. Belanda. Jusuf yang dijuluki sebagai bocah kekar (knok ploeg), pada tahun 1944 bersama rekan-rekannya berhasil menyerang sebuah pos polisi dan merampas empat pucuk pistol jenis Walther.

Kepandaian orang-orang Indonesia, terutama para pelajar yang ada di Belanda dalam menggunakan senjata, tidak terlepas dari peran seorang desertir Jerman berpangkat kopral. Desertir Jerman yang sudah muak dengan berperang tersebutlah yang melatih orang-orang Indonesia di sana dalam menggunakan senjata.

Pasca Belanda dibebaskan dari pendudukan Jerman, orang-orang Indonesia juga berpartisipasi dalam Parade Pembebasan di Amsterdam ibu kota Belanda pada tanggal 8 Mei 1945. Beberapa di antara mereka diangkat menjadi anggota parlemen Belanda, seperti Effendi, Setiadjit, dan Pomantjak. Namun, pada saat meletus peperangan mempertahankan kemerdekaan di Indonesia, kebanyakan dari mereka memilih kembali ke tanah air.

Tokoh-tokoh yang pernah terlibat dalam pembebasan Belanda dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya yang berhaluan komunis. Di dalam perpolitikan di Indonesia, mereka disingkirkan, di antaranya Setiadjit yang dieksekusi tahun 1948 setelah pemberontakan PKI Madiun. Sedangkan Jusuf Mudadalam yang pernah menjabat sebagai menjadi menteri dipenjara pada masa Orde Baru setelah jatuhnya Orde Lama.

Sumber:
Kojongian, Adrianus. 2014. Tentang Lulusan Hoofdcrusus. (Online) (Diakses, 18 Juli 2017). 
Oktorino, Nino. 2015. Nazi di Indonesia – Sebuah Sejarah yang terlupakan. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Editor
Labels: Sejarah Internasional, Sejarah Nasional

Thanks for reading Orang Indonesia Yang Menjadi Pahlawan di Negeri Belanda. Please share...!

Comments
0 Comments

0 Comment for "Orang Indonesia Yang Menjadi Pahlawan di Negeri Belanda"

Back To Top