Budi Utomo

7/27/2017 09:50:00 AM

Budi Utomo

Gambar Rapat Anggota Budi Utomo. Doc. Google
Situasi sosial ekonomi di Jawa pada abad ke-19 setelah berganti-ganti dilaksanakan eksploitasi kolonial tradisional, liberal, dan etis. Semakin derasnya westerniasi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial maka perubahan sosial masyarakat tidak dapat dibendung lagi. Di satu pihak batik saldo yang diperoleh pemerintah dialirkan ke Belanda dan dipihak lain kemeralatan dan kesengsaraan makin dalam melekat di hati masyarakat Indonesia.

Sebagai akibat politik etis yang di dalamnya terkandung usaha memajukan pengajaran maka pada dekade pertama abad ke-20 bagi anak-anak Indonesia masih mengalami hambatan kekurangan dana belajar. Keadaan yang demikian ini menimbulkan keprihatinan dr. Wahidin Sudirohusodo untuk dapat menghimpun dana itu maka pada tahun 1906-1907 melakukan propaganda berkeliling Jawa. Rupanya ide yang baik dari dr. Wahidin itu diterima dan dikembangkan oleh Sutomo, seorang mahasiswa School Tot Opleiding Voor Inlandsche Arsten (STOVIA) dan dari sinilah awal menuju perkembangan dan keharmonisan bagi tanah serta orang Jawa dan Madura. Akhirnya Sutomo dan rekan-rekannya mendirikan Budi Utomo (BU) di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908.

Untuk merealisasikannya diperlukan pengajaran bagi orang Jawa agar mendapat kemajuan dan tidak dilupakan usaha membangkitkan kembali kultur Jawa; jadi, antara tradisi, kultur, dan edukasi barat dikombinasikan.

Corak baru yang diperkenalkan Budi Utomo adalah kesadaran lokal yang diformulasikan dalam wadah organisasi modern dalam arti bahwa organisasi itu mempunyai pimpinan, ideologi yang jelas, dan anggota. Yang sangat menarik pada Budi Utomo karena organisasi ini diikuti oleh organisasi lainnya dan dari sinilah terjadinya perubahan-perubahan sosio-politik.

Reaksi yang kurang enak datang dari orang Belanda yang tidak senang akan kelahiran si Molek (sebutan untuk Budi Utomo dari Belanda) dan mengatakan bahwa orang Jawa makin banyak cincong (tingkah). Tetapi ada juga kelompok etisi yang mengatakan bahwa Budi Utomo lahir wajar dan itu merupakan renaissance atau kebangkitan di timur (oostersche renaissance) dalam arti luas kebangkitan budaya timur. Di kalangan priyai besar yang sudah mapan tidak senang terhadap lahirnya Budi Utomo sehingga para bupati membentuk perkumpulan Regenten Bond Setia Mulia pada tahun 1908 di Semarang untuk mencegah cita-cita Budi Utomo yang dianggap mengganggu stabilitas sosial mereka. Sebaliknya di kalangan buoati progresif seperti Tirtokusumo dari Karang Anyar sangat mendukung Budi Utomo.

Pancaran etno nasionalisme makin membesar dan hal ini dibuktikan dalam kongres Budi Utomo yang diselenggarakan pada tanggal 3-5 Oktober 1908. Dalam waktu singkat di dalam Budi Utomo terjadi perubahan orientasi. Kalau semula orientasinya terbatas pada kalangan priyai maka menurut edaran yang dimuat dalam Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 23 Juli 1908, Budi Utomo Cabang Jakarta mulai menekankan cara baru bagaimana memperbaiki kehidupan rakyat. Di dalam kongres itu terdapat dua prinsip perjuangan, yang pertema diwakili golongan muda cenderung menempuh jalan perjuangan politik dalam menghadapi pemerintah kolonial, sedangkan yang kedua diwakili oleh golongan tua yang ingin tetap pada cara lama, yaitu sosio kultural. Bagi golongan muda perjuangan itu sangat tepat guna memberikan imbangan politik pemerintah. Orientasi politik semakin menonjol dan kalangan muda mencari organisasi yang sesuai dengan mendirikan Sarikat Islam dan Indische Party (IP) sebagai wadahnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, meskipun ada kelompok muda yang radikal, tetapi kelompok tua tetap meneruskan cita-cita Budi Utomo yang mulai disesuaikan dengan perkembangan politik. Pada tahun 1914 ketika pecah Perang Dunia I Budi Utomo turut memikirkan cara mempertahankan Indonesia dari serangan luar dengan mengadakan milisi yang diberi wadah dalam Komite Perhanan rakyat. (volksraad) pada tahun 1918, wakil-wakil Budi Utomo duduk di dalamnya yang jumlahnya cukup banyak dan hal ini karena pemerintah tidak menaruh kecurigaan pada Budi Utomo dan sikapnya yang sangat moderat.

Pada dekade ke 3 abad ke 20, kondisi-kondisi sosial politik makin mantang dan Budi Utomo mulai mencari organisai politik yang mantap dan mencari massa yang lebih luas. Kebijaksanan politik yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, khususnya tekanan terhadap pergerakan nasional, maka Budi Utomo mulai kehilangan wibawa dan terjadilah perpisahan kelompok moderat dan radikal dalam tubuh Budi Utomo. Pengaruh Budi Utomo makin berkurang pada tahun 1935, organisasi ini bergabung dengan partai lain menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak saat itu, Budi Utomo terus mundur dari arena politik dan kembali ke keadaan sebelumnya. Walaupun ketua partai itu dr. Sutomo, salah seorang yang menerima ilham dari dr. Wahidin Sudirohusodo, orang sudah tidak banyak mengharapkan lebih banyak kegiatan dan pimpinannya. Namun demikian dengan segala kekurangannya, Budi Utomo telah mewakili aspirasi pertama dari rakyat Jawa ke arah kebangkitan dan juga aspirasi rakyta Indonesia. Hampir semua pempinan terkemuka dari gerakan-gerakan nasional Indonesia pada permulaan abad ke-20, paling kurang telah mempunyao kontak dengan organisasi ini.

Mengapa Budi Utomo tidak langsung terjun ke lapangan politik seperti organisasi yang kemudian lahir? Rupanya Budi Utomo menempuh cara dan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi pada waktu itu sehingga wajar jika Budi Utomo berorentasi kultural. Tindakan yang tepat berarti Budi Utomo tanggap terhadap politik kolonial yang sedang berlaku. Contohnya ialah bahwa pemerintah sudah memasang rambu  Regeerings Reglement (RR) pasal 111 yang bertujuan membatasi hak untuk rapat dan berbicara yang dengan lain perkataan hak berpolitik dibatasi. Selama RR masih berlaku maka kegiatan Budi Utomo hanya terbatas pada bidang sosio-kultural. Ini merupakan bukti bahwa Budi Utomo selalu menyesuaikan diri dengan keadaan sehingga gerakan kultural lebih mewarnai kegiatan Budi Utomo pada fase awal. Kebudayaan sendiri dijunjung tinggi guna menghargai harkat diri agar mampu menghadapi kultur asing yang masuk.

Dalam perjalanannya, Budi Utomo dengan fleksibilitasnya itu mulai menggeser orientasinya dari kultur ke politik. Edukasi barat dianggap penting dan dipakai sebagai jalan untuk menempuh jenjang sosial yang lebih tinggi. Golongan priyai kecil mendapat kesempatan untuk ikut serta memobilisasikan diri melalui kesempatan gerakan yang lebih merakyat. Usaha ini bersamaan dengan munculnya golongan menengah Indonesia dalam rangka memperoleh perbaikan sosial ekonomi maka tindakan-tindakannya harus disesuaikan dengan jalur politik. Meskipun demikian Budi Utomo juga tidak cepat-cepat mengubah kehaluan politik semata dan ini memang dikuatkan oleh Dwijosewoyo bahwa, “tenang dan lunak adalah sifat BU”.

Budi Utomo bukan hanya dikenal sebagai salah satu organisasi nasional yang pertama di Indonesia, tetapi juga sebagai salah satu organisasi yang terpanjang usianya sampai dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Memang Budi Utomo, seperti yang sudah disinggung di atas, mempunyai arti penting, meskipun kalau dihitung jumlah annggotanya hanya 10 ribu, sedangkan Serikat Islam 360 ribu, Budi Utomo lah penyebab berlangsungnya perubahan-perubahan politik hingga terjadinya integrasi nasional, maka wajarlah kalau pada kelahiran Budi Utomo tanggal 20 Mei disebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Lahirnya Budi Utomo menampilkan fase pertama dari nasionalisme Indonesia. Fase ini menunjukkan pada etno nasionalisme dan proses penyadaran diri terhadap identitas bangsa Jawa.

Sumber:
Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasional (Dari Budi Utomo sampai Proklamasi (1908-1945)). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Editor

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments