Sejarah Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

2/18/2018 01:27:00 AM 0

Sejarah Perumusan 
Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

Soekarno yang didampingi Mohd. Hatta saat membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. (Doc. Istimewa).
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang merdeka melalui perjuangan melawan penjajah. Kemerdekaan negara ini untuk pertama kali diumumkan pada, Jumat, 17 Agustus 1945, di Jakarta, setelah dibacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Soekarno. Sejak saat itu, Indonesia resmi berdiri sebagi sebuah negara.

Namun apakah teman-teman tahu, apa isi dari teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia itu? Bagaimana proses pembuatan teks tersebut?

Berikut ini akan diulas secara singkat sejarah dari dokumen yang sangat berharga bagi Bangsa Indonesia tersebut.

Penulisan dan perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dilakukan pada, Kamis, 16 Agustus 1945, di sebuah rumah di Jalan Imam Bonjol No 1, Jakarta, milik seorang Perwira Angkatan Laut Jepang, bernama Laksamana Muda Tadashi Maeda. Beberapa tokoh terlibat langsung dalam perumusan maupun penulisan, di antaranya Soekarno, Hatta, Ahmad Subardjo. Meskipun pada saat itu juga hadir nama-nama tokoh, seperti Mr Teukoe Moehammad Hasan, Ki Hadjar Dewantara, R. Otto Iskandardinata, Sayuti Melik, Soekarni, BM Diah, dan beberapa tokoh lainnya.

Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia hanya terdiri dari beberapa kalimat. Setiap kalimat tersebut, lahir dari pemikiran tokoh-tokoh yang terlibat langsung dalam perumusan teks bersejarah itu.

Ahmad Subardjo, berperan mengusulkan konsep kalimat pertama yang berbunyi; “Kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan kami”, kemudian berubah menjadi “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia”.

Soekarno, menuliskan konsep kalimat kedua yang berbunyi; “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, dan lain-lain akan diselenggarakan dengan cara yang secermat-cermatnya serta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.

Mohammad Hatta berperan menggabungkan kedua kalimat di atas dan disempurnakan sehingga berbunyi seperti teks proklamasi yang kita miliki.

Konsep dari rumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia itu telah ditulis oleh Soekarno dalam selembar kertas dengan menggunakan pena. (Terlihat dari hasil teks yang kini masih tersimpan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jakarta).

Berikut Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia hasil dari tulisan tangan Soekarno:
Teks proklamasi tulisan tangan dari Soekarno. (Doc. Istimewa)

***
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-2 yang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara setjermat-tjermatnya dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17-8-05
Wakil-wakil bangsa Indonesia
***

Teks konsep yang sudah ditulis, kemudian dibacakan oleh Soekarno di hadapan para pejuang lainnya yang hadir pada saat itu di ruang rapat yang digelar. Para hadirin kemudian menyetujui secara bulat rumusan dari pada isi teks tersebut. Selanjutnya, teks itu diserahkan Soekarno kepada Sayuti Melik untuk diketik ulang menggunakan mesin tik.

Sayuti Melik, ditemani BM Diah, mengetik naskah Proklamasi di ruangan bawah tangga dekat dapur. Dia mengetik naskah Proklamasi dengan beberapa perubahan kata: “tempoh” menjadi “tempo”, kalimat “wakil-wakil bangsa Indonesia” diganti “Atas nama Bangsa Indonesia” dengan menambahkan nama “Soekarno-Hatta”, serta “Djakarta, 17-8-05” menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05.

“Saya berani mengubah ejaan itu adalah karena saya dulu pernah sekolah guru, jadi kalau soal ejaan bahasa Indonesia saya merasa lebih mengetahui daripada Bung Karno,” kata Sayuti Melik.

Teks Proklamasi Indonesia hasil dari revisi Sayuti Malik seteleh diketik ulang menggunakan mesin tik, yakni sebagai berikut:
Teks proklamasi yang telah diketik ulang oleh Sayuti Melik. (Doc. Istimewa)

***
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05 
Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta 
***


Teks yang sudah diketik oleh Sayuti Melik itulah nantinya digunakan Seokarno pada saat pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Sedangkan konsep tulisan tangan Sukarno dia tinggalkan begitu saja di dekat mesin tik. Setelah naskah Proklamasi yang diketik itu dibacakan di depan rapat dan disetujui, barulah Sukarno dan Hatta membubuhkan tanda tangannya.

“Karena tergesa-gesa tadi maka tidak terpikirkan perlunya mengetik rangkap untuk arsip. Jadi hanya saya buat satu lembar saja,” kata Sayuti Melik.

“Dengan demikian naskah yang resmi adalah naskah yang saya ketik yang kemudian dibacakan pada 17 Agustus 1945 oleh Sukarno di Pegangsaan Timur 56 Jakarta pukul 10.00 pagi. Sedangkan naskah yang masih berupa tulisan tangan Sukarno itu sebetulnya baru konsep.”

Berdasarkan sumber dari tempo.co dikatakan, teks proklamasi yang telah ditulis Soekarno kemudian ditinggalkan atau dibuang begitu saja oleh Sayuti Melik, selaku pengetik naskah. Hal itu juga diakui sendiri oleh Sayuti.

Teks proklamasi 17 Agustus 1945 asli yang ditulis Presiden Sukarno sempat dibuang pengetik naskah tersebut, Sayuti Melik. Namun, teks tersebut diselamatkan wartawan senior Buhanuddin Mohammad Diah atau BM Diah. (Source: Tempo.co)

“Setelah konsep saya ketik, saya tinggalkan begitu saja di dekat mesin ketik dan ternyata tidak saya temui lagi. Saya beranggapan bahwa konsep yang ditulis tangan oleh Bung Karno itu telah hilang, mungkin sudah sampai di tempat sampah dan musnah,” kata Sayuti. “Tetapi ternyata anggapan saya itu salah. Saudara BM Diah ternyata memberikan perhatian terhadap konsep naskah tulisan Bung Karno tadi, mungkin beliau telah memikirkan untuk keperluan dokumentasi maka konsep itu diselamatkan.”

Naskah teks proklamasi tulisan Soekarno yang asli baru diserahkan oleh Buhanuddin Mohammad Diah kepada Presiden Republik Indonesia, saat itu, Soeharto, pada tahun 1993.

Tragedi Malaria (Malapetaka lima Belas Januari)

1/21/2018 08:09:00 AM 0

Tragedi Malaria
(Malapetaka lima Belas Januari)

Situasi saat terjadinya peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malaria). (Doc. Google).
Malapetaka Lima Belas Januari (Malaria) merupakan salah satu tragedi yang telah menorehkan catatan hitam sejarah dalam perjalanan Bangsa Indonesia, terutama bagi pemerintahan masa Orde Baru. Bagaimana tidak, peristiwa yang terjadi tepat tanggal 15 Januari 1974 itu, mengakibatkan beberapa kerusakan gedung perkantoran dan pusat belanja di Jakarta. Bahkan dikabarkan, 700-an orang sempat ditangkap, 45 ditahan selama berbulan-bulan, 3 orang diseret ke pengadilan, ratusan orang luka-luka, dan 11 orang dinyatakan meninggal dunia dari kejadian tersebut. 

Berdasarkan beberapa sumber yang Menulis Sejarah himpun, adapun latar belakang dari tragedi tersebut, diawali dari suatu gerakan mahasiswa yang merasa tidak puas terhadap kebijakan pemerintah terkait kerja sama dengan pihak asing untuk pembangunan nasional. Mereka menganggap, kebijakan yang diambil oleh pemerintahan pada saat itu tidak mengarah kepada pembangunan dan mementingkan rakyat. Rezim Orde Baru yang saat itu memimpin dianggap terlalu liberal dan membuka pintu terlalu lebar bagi investor asing. Oleh karena itu mereka menilai, bahwa kerja sama yang dilakukan dengan pihak asing akan semakin memperburuk kondisi ekonomi rakyat.

Jauh sebelum meletusnya peristiwa Malaria, mahasiswa dari berbagai kampus dan masyarakat sipil sempat melakukan demonstrasi menolak kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI) lembaga pemodal asing bentukan Amerika Serikat, Jan P Pronk, di Jakarta pada Minggu, 11 November 1973. Para mahasiswa melakukan aksi di Bandara Kemayoran sambil membawa gambar-gambar foto kritikan penolakan kehadiran Jan P Pronk. Bahkan, salah satu mahasiswi yang mewakili massa aksi mencoba mendekat kepada Jan P Pronk dan kemudian memberikan karangan bunga serta selembar surat yang isinya memorandum penolakan kedatangannya.

Beberapa bulan kemudian, aksi demonstrasi kembali terjadi. Kali ini saat akan menyambut kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang, Tanaka Kakuei. Rencananya massa mau menyambut kedatangan PM Jepang itu di Bandara Halim Perdanakusuma, akan tetapi aparat keamanan sudah memblokade bandara ini sehingga rencana tersebut gagal. Massa kemudian mengalihkan aksinya di sekitar Jakarta Pusat. Aksi ini bisa dikatakan merupakan titik awal dari peristiwa Malaria.

Berbarengan dengan itu kelompok massa dari mahasiswa sedang melakukan diskusi yang berpusat di salah satu universitas tetapi dikagetkan oleh info yang menyebutkan di kawasan pusat Jakarta terjadi kerusuhan. Massa dari mahasiswa banyak yang bertanya bagaimana kejadian anarkis tersebut bisa terjadi. 

Kerusuhan itu sendiri meliputi pengerusakan beberapa fasilitas di umum dan bangunan toko di kawasan Ibukota seperti pertokoan Senen, Jakarta Pusat, dan Roxy, Jakarta Barat. Selama dua hari daerah sekitar ibu kota diselimuti asap. Pembakaran dan Penjarahan menjadi pemandangan yang sangat mengkhawatirkan saat itu (Sumber: Merdeka.com).

Wilayah pertokoan Senen yang dibangun dengan anggaran Rp 2,7 miliar pada saat itu, menjadi titik perhatian, sebab pertokoan itu ludes dilalap si jago merah. Selain itu, Menteri Pertahanan dan Keamanan masa itu, Maraden Panggabean mengatakan, peristiwa kerusuhan yang terjadi selama dua hari tersebut tercatat kerugian materi yang diakibatkan dalam kejadian ini cukup banyak.

"Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor rusak atau dibakar, 144 buah gedung rusak atau terbakar (termasuk pabrik Coca-cola), dan 160 kilogram emas hilang dari sejumlah toko perhiasan," kata Maraden dalam rapat sidang pleno DPR pada 21 Januari 1974 (Sumber: Merdeka.com).

Bukan hanya kerugian besar materi yang dialami, peristiwa dua hari tersebut mengakibatkan korban jiwa selama kerusuhan, yakni 11 orang meninggal, 177 mengalami luka berat, 120 mengalami luka ringan, dan 775 orang ditangkap.

Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin juga membeberkan kerusakan yang terjadi akibat pembakaran saat kerusuhan massa. Angkanya berbeda dengan yang dilansir Maraden Panggabean.

"522 buah mobil dirusak dengan 269 di antaranya dibakar, 137 buah motor dirusak (94 buah dibakar), 5 buah bangunan dibakar ludes, termasuk 2 blok proyek pasar Senen bertingkat 4. Serta gedung milik PT Astra di Jalan Sudirman, dan 113 buah bangunan lainnya dirusak," kata Ali (Sumber: Merdeka.com).

Kalangan yang "sekadar" ditahan pada saat itu yakni Sarbini Sumawinata, Tawang Alun, Soedjatmoko, Buyung Nasution, Adnan, Marsillam Simanjuntak, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Mochtar Lubis, dan sejumlah tokoh lain. Tiga orang yang diseret ke pengadilan, yakni Hariman Siregar (Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) saat itu), Aini Chalid, dan Sjahrir. 
Hariman Siregar. (Doc. Google)
Hariman Siregar bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya dituding menjadi otak pelaku kerusuhan tersebut, akan tetapi dia menolak jika disebut sebagai penyebab dalam kerusuhan tersebut. Menurutnya, insiden kerusuhan itu sudah di luar kendali mahasiswa dan bisa jadi di baliknya ada pihak yang sengaja membuat situasi waktu itu semakin tidak kondusif.

"Berbagai aksi pembakaran dan pengrusakan oleh massa itu sudah di luar kendali mahasiswa. Begitu sore hari ada kebakaran di Pasar Senen, saya sudah berpikir pasti ada yang menunggangi aksi mahasiswa," kata Hariman kepada merdeka.com, Kamis (9/1) pekan lalu.

Hariman sendiri menyebut Malari sebagai puncak dari gerakan kritis terhadap konsep pembangunan yang dilakukan pemerintah Orde Baru saat itu.

Sampai saat ini, peristiwa Malaria masih menjadi tanda tanya, khususnya mengenai siapa dalang di balik kerusuhan tersebut. Sedangkan Hariman Siregar berserta kelompok mahasiswa lainnya dikatakan tidak terbukti bersalah dalam tragedi yang telah berlalu selama lebih dari 40 tahun ini.

Sumber:

Profil Abdoel Moeis

11/05/2017 04:20:00 AM 0

Profil Abdoel Moeis

Foto Abdoel Moeis (Abdul Muis). @Doc. Pahlawan Center
Abdoel Moeis, tokoh pergerakan dan pahlawan nasional berdarah minang yang lahir pada 3 Juli 1883, tepatnya di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat. Tak banyak yang dapat diketahui sebelum Abdoel Moeis muda mengenyam pendidikan dasarnya pada sekolah Belanda tingkat persiapan Stovia di Bukittinggi untuk kemudian menuju Bandung dan tinggal lama di kota ini. Tak heran jika Bandung memiliki ikatan erat dengan tokoh yang satu ini, hingga lokasi sekitar terminal pusat kota Bandung kemudian disebut terminal Abdoel Moeis untuk menggantikan nama terminal Kebon Kalapa.

Sekitar tahun 1903-1905, Abdoel Moeis muda diterima bekerja di Departemen Pengajaran dan Keagamaan atas jasa Mr. Abendanon. Abdoel Moeis pernah ditempatkan di Bank Rakyat. Di sini, nalurinya terhadap kerakyatan mulai terpupuk. Abdoel Moeis geram melihat kasus pungutan liar yang dilakukan oleh lurah dan kaum priyayi rendahan pada orang-orang desa, dan pada akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaan yang mapan tersebut.

Di sinilah karir Abdoel Moeis yang sesungguhnya dimulai. Mengawali karir sebagai korektor naskah yang masuk ke suratkabar berbahasa Belanda, Preangerbode. Nama Abdoel Moeis mulai dikenal banyak orang saat artikelnya yang banyak dimuat di harian De Express selalu mengecam tulisan orang-orang kolonialis Belanda. Setelah De Expres dilarang terbit akibat artikel keras Soewardi Soerjaningrat "Als Ik Ees Nederlander was" pada 1912, Moeis bekerja di suratkabar Kaoem Moeda, koran pertama yang mengenalkan rubrik "Pojok" sejak tahun 1913-an. Posisi Moeis sebagai redaktur serta mengurusi masalah-masalah penerbitan dan pemasaran, membuatnya lebih leluasa untuk melanjutkan perjuangan dengan pena sebagai senjata. Koran Kaoem Moeda ini menjadi tulang punggung perjuangan Sarekat Islam di Bandung. Selain itu, Abdoel Moeis juga masuk ke keredaksian Oetoesan Hindia, organ internal SI, pada 1915 serta tercatat pula sebagai redaktur di majalah Hindia Sarekat yang didirikannya bersama bersama Soewardi Soerjaningrat dan A.Widnjadisastra. 50 persen penghasilan dari majalah Hindia Sarekat itu dimasukan untuk kas Sarekat Islam, untuk membantu pergerakan.

8 September 1917, Moeis bergabung dengan Neratja sebagai pemimpin redaksi. Tulisan-tulisan Moeis yang radikal menjadi pemicu perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Pada setiap tulisannya, secara konsisten ia suarakan komitmennya terhadap perbaikan nasib pribumi. Moeis juga memimpin perusahaan periklanan NV Neratja yang terutama mengiklankan perusahaan-perusahaan gula. Neratja memang merupakan organ dari Suikersindicaat (asosiasi pabrik gula) Hindia Belanda.

Abdoel Moeis juga mulai berkenalan dengan tokoh-tokoh penting pergerakan yang berpengaruh, serta terjun pada organisasi Sarekat Islam sejak 1913. Nyaris sebagian besar masa mudanya ia baktikan untuk perjuangan bersama organisasi Islam ini, Dan mulai April 1914 hingga beberapa tahun setelahnya, Moeis dipercaya menjadi wakil ketua Central Sarekat Islam (CSI, pengurus pusat SI) mendampingi Tjokroaminoto. Sejak saat itu, dengan cepat Moeis menjelma menjadi sosok intelektual yang berpengaruh. Abdoel Moeis juga dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Soewardi Soeryaningrat. Keempatnya terlibat dalam Komite Boemi Poetra, yang menentang Peringatan 100 Tahun Kemerdekaan Belanda dari penjajahan Spanyol. Keempatnya menentang keras dan menolak dengan tegas karena Belanda akan merayakan kemerdekaan di tanah yang dijajahnya.

Abdoel Moeis dikenal sebagai pembela kepentingan rakyat kecil. Ia sering melakukan kunjungan ke berbagai daerah untuk membela kepentingan rakyat serta mengobarkan semangat pemudanya agar semakin giat berjuang meraih kemerdekaan. Kemerdekaan, selalu menjadi impian terbesar Moeis. Ia juga tak pernah sepakat dengan penamaan Hindia Belanda. Baginya, Hindia Belanda adalah sebuah hubungan dari Belanda atas Hindia yang didasari atas kepemilikan dan dominasi, dengan kata lain mendefinisikan daerah jajahan. Moeis lalu memberi makna politis dalam bentuk Hindia yang harus merdeka. Berikut sedikit dari cungkilan pemikiran Moeis,

"Selama bumiputera tanah Hindia belum mempunyai kebangsaan dan tanah air sejati, maka perasaan cinta tanah air dan bangsa itu harus dibangunkan dalam kalbu bumiputera. Selama bumiputera tanah Hindia belum mendapat kemerdekaan, maka lebih dahulu ia harus mempunyai sifat yang tersebut di atas. Segala pergerakan bumiputera haruslah berikhtiar membangunkan perasaan ini, karena dengan alasan itu saja suatu bangsa akan bernafsu memajukan negerinya, mengangkat derajat bangsanya."

Setelah meletus Perang Dunia I, pada tahun 1917 Abdoel Moeis mewakili Sarekat Islam dan lima orang lain yaitu Pangeran Ario Koesoemodiningrat (mewakili Prinsen Bond), Bupati Magelang Raden Tumenggung Danoe Soegondo mewakili Regenten Bond, Mas Ngabehi Dwidjosewojo mewakili Boedi Oetomo, F Laoh mewakili Perserikatan Minahasa, dan W.V Rhemrev diutus ke Belanda sebagai anggota Komite Indie Weerbaar guna membicarakan masalah pertahanan bagi bangsa Indonesia. Selain itu, ada seorang pendamping yaitu Dirk van Hinloopen Labberton, seorang tokoh pendukung Politik Etis.

Komite Indie Weerbaar adalah barisan pertahanan Hindia atau biasa dikenal dengan sebutan Milisi Indonesia yang merencanakan akan diberlakukannya semacam wajib militer bagi penduduk pribumi. Rencana ini mendapat reaksi keras dari anggota SI di Kota Semarang, namun begitu Abdoel Moeis tetap berangkat ke Belanda. Menurut Moeis, dengan masuknya rakyat ke dalam angkatan bersenjata akan mendorong terbentuknya laskar perjuangan yang lebih tangguh dan dapat dibanggakan di dalam sistem hirarki sosial.

Menjelang kepulangan ke Hindia Belanda, diadakan pesta besar yang diselenggarakan Jenderal Van Heutsz dan dihadiri oleh para tokoh terkemuka dari kalangan pemerintahan dan dunia usaha, yang kemudian menyepakati untuk mendirikan sekolah politeknik di Hindia. Menurut Dirk van Hinloopen Labberton, jika ada perang, bumiputera pertama tama mesti melindungi kepentingannya sendiri. Labberton juga menjelaskan bahwa tidak lama lagi oleh usaha pihak partikulir di Hindia, kira kira di Bandoeng, akan didirikan Technische Hooge School. Hal ini tentu seolah menjadi angin segar mengingat mendirikan Sekolah Teknik Tinggi di Hindia Belanda sebenarnya sudah menjadi pemikiran elite Bumiputera dan sementara pengusaha dan industriawan Belanda di Hindia sebelum 1917. Misalnya dalam Doenia Bergerak No. 18 (1914) sudah muncul tulisan berjudul "Pendapatan hal Techniche Hooge School di Hindia" Soewardi Soerjaningrat yang ketika itu (1917) masih di Nederland gencar sekali mendukung pendirian Sekolah Tinggi Teknik itu.

Sesampainya di Hindia Belanda, delegasi Indie Weerbaar, khususnya Abdoel Moeis berupaya melakukan negosiasi hingga disetujuinya pembentukan komisi untuk pendidikan teknik di Hindia oleh Ratu Belanda dan 14 pengusaha Belanda yang memberikan dukungan finansial penuh. Pada tahun 1920, sekolah yang diimpikan itu berdiri di Kota Bandung dengan nama Technische Hogeschool (THS). Menurut keterangan putrinya, Dr. Diana Moeis, ayahnya pernah bercerita bahwa lokasi THS yang sekarang disebut sebagai Intitut Teknologi Bandung itu usulan ayahnya. Pembangunan gedung THS juga tak lewat dari masukan dari Abdoel Moeis yang menginginkan agar ada unsur pribumi dalam bangunan tersebut.

Dalam karir politiknya, Abdoel Moeis pernah menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) bersama H.O.S Tjokroaminoto sebagai perwakilan dari SI. Di forum inilah Moeis dengan gencar mengecam penamaan Hindia Belanda untuk wilayah nusantara. Ia adalah salah satu penggagas lahirnya nama Indonesia. Keterlibatan Moeis dan Tjokroaminoto dalam Volksraad ini juga ditentang oleh Semaoen, Darsono, dan anggota SI Semarang lainnya. Sementara itu, Moeis dengan pemikiran modernnya berpikiran bahwa Volksraad adalah tempat yang tepat untuk menggerakkan harapan-harapan pemuda. Dengan Volksraad pula, suara bumiputera akan bisa lebih terakomodasi dalam rangka mewujudkan tujuan untuk membentuk pemerintahan sendiri bagi Hindia. Pertentangan di tubuh internal SI berlanjut dan semakin parah. Anggota SI Semarang yang digalang Semaoen, Darsono, dan Tan Malaka adalah anggota dengan karakter radikal, serta juga menjadi anggota Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) pimpinan Sneevliet yang adalah cikal-bakal partai beraliran komunis di Indonesia.

Menurut Soe Hok Gie di bukunya ‘Di Bawah Lentera Merah’, mengungkap tiga point penting yang menjadi pokok pangkal perseteruan keduanya antara kedua SI. Hal pertama mengenai agama. Kelompok Moeis menginginkan agar Islam diperkembangkan melalui partai, sedangkan Semaoen beranggapan cukup agama Islam itu tidak dibelakangkan dari agama lain di Indonesia. Hal kedua mengenai nasionalisme. Kelompok Moeis menolak pertuanan (penghambaan-pen) bangsa yang satu oleh bangsa lainnya, sementara kelompok Semaun menganggap perjuangan melawan kapitalisme adalah yang paling utama. Hal ketiga adalah sikap terhadap kapitalisme. Keduanya sepakat: untuk memperoleh kemerdekaan diperlukan dana perjuangan. Bagi kelompok Moeis modal boleh dimiliki oleh individu orang Indonesia. Sementara bagi kelompok Semaoen modal harus dikumpulkan pada badan-badan koperasi.

Dalam salah satu bentuk penyadaran nasionalisme bumiputera, Abdoel Moeis berkata:

"Yang menjadi tujuan daripada perhimpunan kaum pribumi itu adalah memperbaiki nasib kaum bumiputera. Sedangkan bila ia melihat lebih jauh maka tidak dapat tidak akan nampak bahwa perhimpunan-perhimpunan tersebut hanya satu tujuannya, yaitu kemerdekaan Hindia."

Dalam sambutannya di Kongres Nasional SI Kedua, Bandung 20-27 Oktober 1917, Abdoel Moeis melanjutkan gagasannya, "Putera-puteri Hindia tetap mengarahkan pandangannya kepada tujuan yang telah mereka idam-idamkan: melepaskan diri dari belenggu yang mengikat mereka."

"Yang pertama-tama harus kita miliki untuk usaha yang sukar dan berbahaya ini adalah rasa Kebangsaan, yaitu cinta kepada negara dan sesama bangsa kita. Bila kita renungkan betapa buruknya nasib negara dan sesama bangsa kita yang beratus-ratus tahun terbelenggu oleh orang-orang asing, serasa berdebarlah hati kita, berdiri bulu roma, dan kita merasa kasihan kepada negara dan sesama bangsa kita."

Di akhir orasinya, Moeis lagi-lagi menegaskan pentingnya menumbuhkan cinta tanah air serta menekankan perlunya merapatkan barisan dan menghemat energi untuk kepentingan-kepentingan dalam negeri terlebih dahulu, meski juga mesti tanpa mengesampingkan perkembangan global. "Untuk memperbaiki rumah tangga seluruh dunia tidak usah kita terlebih dahulu menjadi kaum internasionalis."

Selain berjuang bersama Sarekat Islam dan rutin menulis di Koran Kaoem Moeda, Abdoel Moeis dikenal piawai dalam mempengaruhi massa. 11 Januari 1922, Moeis memimpin pemogokan buruh di Yogyakarta sebagai reaksi atas pemecatan pekerja pribumi secara sepihak oleh pemerintah. Saat itu, Moeis menjabat sebagai ketua Perserikatan Pegawai Pegadaian Boemiputera (PPPB). Aksi mogok ini dengan cepat meluas hingga luar Yogyakarta dan dalam waktu 2 minggu, sekitar 1.000 orang buruh pegadaian Karesidenan Cirebon, Kedu, Pekalongan, Semarang, Rembang, Kediri, serta Surabaya mengadakan aksi mogok kerja secara massal.

Pemogokan besar-besaran ini membuat pemerintah kolonial kelabakan dan mengajukan perundingan. Moeis pemecatan buruh dibatalkan dan meminta pemerintah membentuk komite penyelidik ketidakpuasan para buruh pegadaian. Sayangnya, tuntutan Moeis tak digubris pemerintah sehingga membuat Moeis geram dan menggalang pemogokan dengan massa yang lebih besar. Pemogokan pekerja pribumi menurut Abdoel Moeis adalah sebuah bentuk perjuangan nasional. Sebagai akibat pembangkangannya pada pemerintah kolonial, pada 8 Februari 1922 Moeis ditangkap dan diasingkan ke Garut. Pengasingan ini membuatnya tak lagi bisa bergabung bersama rekan seperjuangannya, dan akhirnya memutuskan menjadi petani. Paska kemerdekaan, ternyata Belanda tak meninggalkan Hindia begitu saja dan melancarkan agresi militer. Moeis yang saat itu berada di pengasingan, memutuskan untuk membentuk Persatuan Perjuangan Priangan, suatu persatuan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan. Laskar perjuangan ini ia pimpin dengan segenap hati sebagai pengabdian pamungkasnya terhadap Republik Indonesia hingga akhirnya menutup usia di kota Bandung pada 17 Juni 1959. Perjuangan Abdoel Moeis diakui pemerintah sehingga dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional yang pertama oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 Agustus 1959. Sebagai penghormatan, Moeis dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.

Selain populer sebagai aktivis pergerakan, pejuang intelektual, juga pegiat pers perjuangan, Abdoel Moeis juga terkenal sebagai sastrawan hebat Indonesia. Salah satu karyanya yang legendaris adalah novel "Salah Asuhan". Novel yang terbit pada tahun 1928 ini, difilmkan oleh Asrul Sani pada tahun 1972, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Robin Susanto dan diterbitkan dengan judul Never the Twain oleh Lontar Foundation sebagai salah satu seri Modern Library of Indonesia, dan masih sering menjadi referensi sastra hingga kini. Karya Abdoel Moeis lainnya adalah Pertemuan Jodoh (novel, 1933), Surapati (novel, 1950), dan Robert Anak Surapati(novel, 1953), serta beberapa terjemahan, antara lain; Don Kisot (karya Cerpantes, 1923), Tom Sawyer Anak Amerika (karya Mark Twain, 1928), Sebatang Kara (karya Hector Melot, 1932), Tanah Airku (karya C. Swaan Koopman, 1950).


Sumber:
Merdeka. Tidak Ada Tahun. Profil: Abdoel Moeis. (Online). (diakses, 5 November 2017).

Teungku Putik (Bagian 3/Habis)

9/29/2017 05:24:00 AM 0

Teungku Putik (Bagian 3/Habis)

Ilustrasi. @Doc. merdeka.com
4. Akhir Resistensi
Pasca perdamaian tersebut, Teungku Putik kembali mengaktifkan lembaga pendidikan agama beserta meuseujid dan meunasah sebagai pengajian di Nigan yang lama tidak dimanfaatkan lagi. Kegiatan-kegiatan sosial yang pernah dilakukan dahulu kini kembali dijalankan oleh Teungku Putik dengan bantuan Belanda untuk kemakmuran kehidupan masyarakat di perkampungan. Pada tahun 1916, beliau kembali ke Seunagan untuk melanjutkan pembangunan baik di bidang agama maupun sosial ekonomi. Sehingga Teungku Putik mengangkat wakilnya di Seunagan, seperti Teungku Abdullah di Gampong Seumayam, Teungku Muhammad Arifin di Gampong Panton Limeing, dan Teungku Gadong di Gampong Tripa.

Masih ragunya Belanda dengan penyerahan diri atau perdamaian Teungku Putik terjadi pada saat terjadi percobaan pembunuhan terhadap Kolonel G.F.V. Gesenson di Gampong Suak Bilie pada tahun 1917 oleh tiga orang pemuda. Belanda menggap bahwa ketiga pemuda tersebut pernah menjadi pengikut dari Teungku Putik, sehingga Belanda melalui asisten Resident West Koest van Atjeh yang dijabat Kolonel Schmitd menangkap beliau. 

Pada penangkapan tersebut Kolonel Schmitd mengatakan bahwa beliau diundang Mayor Bekring ke Meulaboh karena ada sesuatu keperluan untuk dibicarakan. Sejak saat itu Teungku Putih tidak lagi terdengar kabar, para keluarga dan pengikutnya hanya ditinggalkan bertanya-tanya. Namun sebelum ditangkap, beliau telah menitipkan pesan kepada Teuku Raja Tampok bahwa bilau akan ditangkap dan tidak mungkin kembali lagi ke kemari (Seunagan).

Pada tahun 1920, pihak keluarga menerima sepucuk surat daru Teungku Putik yang isinya sebagai berikut:
“Kami sekarang berada di tengah-tengah masyarakat Banyumas, dan dibebaskan bergerak dalam bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Tetapi berpegang tegulah kepada jalan Allah Swt., dan hanya kepada-Nya kita semua akan kembali, oleh karenanya beramal shalih dan berjihadlah, semata-mata karena Allah, jangan dipercayai oleh syaitan. Surat ini jangan dibalas karena membahayakan kehidupan kita”.

Surat tersebut dibawa oleh pejuang dari Seunagan yang telah dikembalikan ke masyarakat. Beliau pernah bertemu dengan Teungku Putik di Banyumas.

Menurut beberapa sumber yang pernah berkunjung ke Banyumas, disebutkan pada tahun 1933, Teungku Putik meninggal dunia pada usia 85 tahun. Beliau dimakamkan di sebuah perbukitan di Kabupaten Banyumas bekas Keresidenan Kedu di Jawa Tengah.


Sumber:
muhammadsaifullah.com

Teungku Putik (Bagian 2)

9/20/2017 10:16:00 AM 0

Teungku Putik (Bagian 2)

Ilustrasi. @Doc. merdeka.com
3. Resistensi Terhadap Belanda
Perlawanan-perlawanan yang terjadi di Nagan Raya (Seunagan) merupakan bagian dari perjuangan rakyat Aceh dalam menentang Belanda. Pasukan yang dipimpin oleh Teungku Putik menghimpun suatu barisan jihad dengan 200 orang anggota pasukan muslimin yang dibagi ke dalam enam kelompok untuk mencegah serta membendung serangan yang diluncurkan oleh marsose Belanda. Dengan memanfaatkan alam sebagai benteng pertahanan, pasukan Teungku Putik menggunakan teknik gerilya untuk menyerang dan menyergap Belanda. Dalam melakukan gerilyanya, pasukan Teungku Putik dan Teungku Kapa yang merupakan santri sekaligus panglima pasukan berhasil menyergap pasukan marsose Belanda di Gunong Buloh, Keude Neulop, Pulo Ie, Paya Udeung, Cot Meugat, Reudep, dan Rambong Cut dengan hanya bersenjatakan pedang (peudeung) dan kelewang (reudeuh).

Pada tahun 1902, pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan Brewer menyerang Jeuram yang merupakan tempat pertahanan dan berkumpulnya masyarakat Seunagan. Pasukan Teungku Putik yang dibantu Uleebalang Tueku Keumangan dan panglimanya Pang Bacah beserta masyarakat berhasil memukul mudur pasukan Belanda ke Pulo Ie. Pada serangan tersebut membuat Belanda harus kehilangan 15 orang pasukannya yang tewas dan 10 orang luka-luka, sedangkan dipihak muslim Seunagan 8 orang tewas dan 10 orang luka-luka ringan. Sejak saat itu Belanda terus menerus melakukan serangan ke Jeuram hingga membuat pasukan Teungku Putik terpaksa mundur ke Paya Udeung.

Setelah merebut Jeuram, Belanda kemudian membangun benteng di daerah tersebut seluas 300 meter. Meskipun telah membangun pertahanan yang tangguh namun gigihnya pasukan gerilya yang dipimpin oleh Teungku Putik membuat Belanda tidak henti-hentinya melakukan pengejaran, baik itu penyergapan bahkan pemberian hadiah kepada orang-orang yang mampu menangkapnya. Namun seakan semua itu sia-sia, hal ini disebabkan masyarakat yang tidak berani berkhianat karena rasa cinta, segan, dan hormat kepada Teungku Putik yang dianggap juru penyelamat.

Direbutnya Jeuram oleh Belanda, Teungku Putik dan Teuku Keumangan memindahkan lokasi pertemuan ke daerah Sapek. Di situ, pasukan Teungku Putik juga mendirikan sebuah masjid yang bertujuan untuk  pembinaan sekaligus untuk terus mengindoktrinasi perang sabil kepada anggota-anggota serta masyarakat yang ada di gampong tersebut setiap saat pengajian dan perjumpaan lainnya. Ketenangan pertahanan di daerah Sapek tidak berlangsung lama, sebab tempat tersebut telah diketahui dan Belanda beserta pasukan mencoba melakukan penyerangan ke daerah tersebut.

Sulitnya medan yang harus dilalui pasukan Belanda menuju Sapek menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi pasukan Teungku Putik untuk melakukan serangan dan penyergapan. Hal ini dikarenakan jalan-jalan menuju daerah tersebut masih penuh dengan hutan lebat yang berlumpur serta berawa dan keadaan ini menjadi benteng bagi pasukan Teungku Putik. Sulitnya melumpuhkan pasukan Teungku Putik dengan pertahanan benteng alamnya membuat Pemerintahan Belanda di Meulaboh yang dipimpin oleh Kapten M.J.J.B.H. Campioni berkunjung ke Seunagan untuk menyaksikan langsung daerah rawan dan penuh ketegangan tersebut bersama dengan pasukannya, seperti Letnan Cristoffer, van Der Vlerk, van Der Zee, dan Brewer.

Setiap pergerakan pasukan Belanda yang akan memasuki wilayah Seunagan, selalui diintai dan diawasi oleh Pang Dolah dan Pang Brahim yang merupakan orang kepercayaan Teungku Putik untuk berjaga dikawasan perbatasan Seunagan dan Kaway XVI. Info yang didapat akan dikabarkan dengan menggunakan tanda alam serta bunyi-bunyian tambo (beduk) yang dipukul. Hal ini dilakukan agar pasukan Teungku Putik sudah bersiap-siap sebelum Belanda sampai.

Ketika pasukan Belanda telah memasuki kawasan antara Nigan dan Sapek yang berawa-rawa, tambo langsung dibunyikan. Pasukan yang telah bersembunyi dan bersiap-siap dengan semangat jihad yang dipimpin oleh Teungku Pulo Jakfar langsung melakukan penyerangan secara tiba-tiba dan membuat pasukan Belanda kacau balau, panik, tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga pada penyerangan tersebut Belanda kehilangan 60 orang pasukannya yang tewas dengan 20 orang luka parah termasuk Kapten Campioni yang kemudian meninggal dalam perjalanan laut menuju Kutaraja (Banda Aceh) lalu dikuburkan di pekuburan Peutjoet atau kerkhof.

Seorang pasukan Belanda H.C. Zentgraff menuliskan peristiwa tersebut sebagai berikut:
“Suatau kelalaian sang komandan telah membuat keuntungan bagi pihak lawan di dekat Gampong Sapek. Orang masih ingat akan pertempuran yang sangat menyedihkan itu. Setiap kesilapan di sini, harus dibayar dengan darah...ya...sebuah pembunuhan berkelewang ini yang dilakukan lawan dengan perasaan tidak takut mati...yang tak ada teranya itu kita dapati sebuah penyerbuan terhadap pasukan Compioni di tahun 1904, satu-satunya pertempuran berkelewang terbesar yang pernah dikenal dalam pertempuran di Aceh”.

Banyaknya serangan-serangan sporadis yang dilakukan oleh pasukan muslimin dan rakyat, membuat Belanda melakukan pengejaran terhadap pasukan muslimin di Seunagan. Pasukan yang dipimpin oleh Letnan Brewe ini melakukan pengejaran dengan tindakan yang kejam dengan mencurigai pemberontak kepada penduduk sipil. Selain itu, Belanda juga melakukan pendekatan dengan beberapa Uleebalang di Seunagan agar mau berdamai, dan hal tersebut dilakukan dengan cara menculik keluarga dari Teuku Keumangan.

Diculiknya keluarga dari Teuku Keumangan membuat Uleebalang Seunagan menyerah dan memilih berdamai dengan Belanda pada tahun 1906. Tindakan tersebut diambil agar dapat membebaskan keluarga dan melindungi masyarakat dari represivitas pasukan Belanda yang semakin kejam.

Menyerahnya Teuku Keumangan tidak menyurutkan Teungku Putik untuk terus berjuang, malah Teungku Putik memindahkan lokasi pertahanan dan persembunyian ke daerah pedalaman Krueng Tripa. Di daerah baru tersebut Teungku Putik beserta para pasukannya juga membuka lahan untuk bertani. Namun persembunyian baru tersebut juga diketahui oleh pasukan Belanda sehingga mereka langsung melakukan pengejaran ke daerah Krueng Tripa. 

Lagi-lagi untuk dapat mencapai daerah tersebut Belanda harus kehilangan 4 orang pasukannya yang tewas saat berhadapan dengan pasukan perang yang dipimpin oleh Pang Ali. Selain itu pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan J.J. Donner juga hampir menjadi korban penikaman Keujreun Bacah apabila tidak langsung kabur yang telah mempermainkan dan membuat mereka lalai.

Pada tahun 1908, Teungku Putik menerima berita dari Teuku Keumangan bahwa Belanda akan melakukan serangan ke hulu Krueng Tripa. Teungku Putik memerintahkan pasukannya untuk mengatur siasat untuk bersembunyi memasuki kiri dan kanan hutan  di daerah antara Krueng Tripa dan Krueng Buloh. Tiba-tiba dengan teriakan Allahu Akbar pasukan Teungku Putik menyerang pasukan Belanda tampa rasa takut. Pasukan muslimin yang dipimpin oleh Teungku Putik terus bergerak maju dengan harapan memenangi pertempuran ataupun mati syahid demi agama dan mengharapkan keridhaan Allah.

Dari peperangan yang terjadi di hulu Krueng Tripa tersebut, pasukan muslimin berhasil meraih kemenangan. Belanda kehilangan 70 orang serdadu yang tewas, serta beberapa pasukan yang luka termasuk Kapten Lux. Sedangkan dipihak Teungku Putik kemengan ini juga harus dibayar mahal dengan kehilangan beberapa orang panglimanya, seperti Pang Brahim, Pang Sabi, Teungku Imeum Meukek, Keucik Abah, dan sepuluh pengikutnya serta Teungku Usman (Teungku Cut) anak kandungnya sendiri.

Setelah peperangan tersebut, Teungku Putik menyadari untuk menghentikan perjuanga secara kekerasan dengan menggunakan senjata. Beliau memilih untuk berjuang di tengah masyarakat umum untuk memperbaiki taraf kehidupan penyempurnaan dakwah, ibadah, serta ilmu pengetahuan agama. Supaya ibadah yang dilakukan masyarakat benar-benar sesuai dengan anjuran Allah Swt., dan Nabi Muhammad Saw. Hal ini juga berdasarkan pikiran dan dasar beberapa pertimbangan ajakan dari Teuku Keumangan untuk segera berdamai dengan Belanda dan bersama-sama membangun Seunagan di bidang keagamaan serta kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Mengingat Belanda yang semakin refresif dan melakukan kekerasan terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai pendukung kelompoknya. Apabila kondisi ini berlanjut, maka dikuatirkan kemungkinan generasi masa depan akan menjadi buta dalam pengetahuan agama dan tidak dapat menuntut ilmu ibadah serta pendidikan. Di sisi lain, pada tahun 1910 wilayah Seunagan dan pantai barat Aceh mulai berjangkit penyakit endemis cacar secara besar-besaran yang banyak menyerang penduduk serta pengikut Teungku Putik. Banyak dari mereka yang terserang penyakit tersebut meninggal dunia.

Pada tahun 1911, Teungku Putik bersama beberapa pasukannya turun gunung menuju Krueng Tripa untuk melakukan perdamaian dengan Belanda. Mayor Bekring selaku pimpinan Belanda wilayah Aceh Barat yang berkedudukan di Meulaboh memimpin upacara perdamaian tersebut dengan didampingi oleh Mayor Volumen yang bertugas di wilayah Selatan Aceh yang berkedudukan di Tapak Tuan beserta Teuku Ben Mahmud Blangpidie.

Perdamaian dengan Teungku Putik merupakan kesusksesan besar oleh Belanda sehingga beliau dibawa ke Kutaraja (Banda Aceh) untuk diberikan penghargaan dari Gubernur Militer Aceh yang dijabat oleh H.N.A. Swarth. Meskipun telah berdamai, Belanda tidak mempercayai Teungku Putik dengan mutlak mereka terus mengikuti gerak-gerik beliau. Sedangkan dilain pihak, Teuku Raja Tampok yang merupakan salah satu pengikut Teungku Putik memilih untuk terus melakukan perjuangan melawan Belanda. Baca Selanjutnya (Bagian 3/Habis) >>>>


Sumber:
muhammadsaifullah.com

Ketika Para Pakar Mengkaji Keberadaan Darud Dunia

9/16/2017 11:01:00 PM 0

Ketika Para Pakar Mengkaji Keberadaan Darud Dunia

Ilustrasi. @Doc. helloacehku.com
Dinas Kebudayaan Provinsi Aceh menggelar seminar kepurbakalaan bertajuk "Keraton Kesultanan Aceh "Darud Donya", di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Kamis, 14 September 2017. Seminar yang dilaksanakan tertutup untuk umum tersebut menghadirkan beberapa pemateri, seperti Drs. Rusdi Sufi, Taqiyuddin Muhammad, Lc., Misri A. Muchsin, dan Yudi Andika.

Dalam seminar tersebut, beberapa pemateri mengupas bagaimana kebudayaan Aceh masa lalu sehingga dikenal mancanegara. Salah satunya Aceh adalah sebagai daerah penghasil emas terbanyak di Asia bersama Jepang. 

Rusdi Sufi dalam materinya menyebutkan, catatan mengenai Aceh juga banyak dicantumkan dalam naskah-naskah penjelajah asing. termasuk catatan tentang kondisi Dalam (penyebutan istana versi Aceh).

Sementara Taqiyuddin Muhammad dalam pemaparannya memperkuat pernyataan Rusdi Sufi mengenai jejak sejarah Aceh yang disampaikan dalam beberapa literatur. Di antara bukti jejak sejarah tersebut yang masih dapat ditemui saat ini adalah nisan dan Krueng Aceh. 

"Sungai Aceh itu landmark pada Aceh. Namanya juga Aceh River (Krueng Aceh)," kata Taqiyuddin.

Menyikapi hal tersebut lah, Taqiyuddin mengatakan, penumpukan sampah di muara Krueng Aceh itu tidak strategis. Menurutnya, persoalan muara sungai tersebut tidak sebatas permasalahan nisan saja, karena Krueng Aceh sendiri adalah bagian dari sejarah daerah ini.

Taqiyuddin juga mengatakan makna pentingnya menemukan kembali struktur Darud Dunia untuk ilmu pengetahuan generasi muda Aceh di masa mendatang. "Keraton Darud Dunia perlu ditemukan kembali. Sejumlah literatur sudah menyebutkan adanya Darud Dunia, adanya keraton sultan-sultan Aceh," ungkap Taqiyuddin.

Catatan mengenai keberadaan istana Aceh ini disebutkan dalam catatan perjalanan penjelajah asing, dokumen penting kerajaan, naskah-naskah, dan surat-surat diplomasi antar-Kerajaan Aceh dengan dunia internasional. Selain itu, keberadaan keraton Aceh juga tersebut dalam temuan benda-benda sejarah seperti di nisan dan lainnya.

Di sisi lain, Taqiyuddin juga berharap kajian-kajian mengenai sejarah Aceh tidak merujuk pada pemahaman budaya non-Islam. Hal ini disebabkan peradaban Aceh masa lalu sangat kental dengan keislaman. Artinya, menurut Taqiyuddin, semua hal yang dibangun di Aceh itu bersumber dari ajaran Islam. termasuk bagaimana mengatur tata ruang kota dengan ilmu fiqih.

"Akal yang mempelajari atau mengatur daerah ini, itu Islam. Jadi ini yang perlu dipelajari, warisan Islam, warisan fiqih, apakah itu ilmu warisannya, maupun persoalan kota-kota Islam, karena itu fiqih juga menunjukkan. Bagaimana jarak jalan, seberapa jarak jalan, itu ada dalam fiqih. Apakah masjid itu berapa jendelanya, itu diatur dalam fiqih," kata Taqiyuddin.

Begitu pula dengan pemahaman asimilasi budaya Aceh yang terpengaruh Hindu-Budha, terutama mengenai kenapa harus pusat kota berada di dekat sumber mata air atau sungai. Menurutnya, budaya membangun pusat peradaban dekat sumber mata air merupakan gagasan dalam kebudayaan Islam.

"Itu ide Islam. Kita nggak berbicara Hindu Budha di sini, walau pun kita perlu mempelajari pra sejarah, pra Islam. Jadi ketika kita memahami bagaimana itu Bandar Aceh Darussalam, jangan khianati orang-orang Aceh dahulu. Mereka baca Alquran, mereka menyalin mushaf, mereka mengaplikasi hidup mereka dalam ajaran Islam, kita jangan mengerti (memahami) mereka dengan pandangan orang lain. Kita harus mengerti (memahami) mereka dengan pandangan mereka sendiri. Bagaimana hidup mereka waktu itu, itu baru sejarah. Bukan (memahami sejarah) dengan interpretasi kita," kata lulusan Al Azhar, Kairo, tersebut.


Teungku Putik

9/16/2017 09:55:00 PM 0

Teungku Putik

Ilustrasi. @Doc. merdeka.com
1. Asal Usul Keturunan Teungku Putik
Teungku Putik merupakan seorang ulama kharismatik sekaligus pejuang pada masa kolonial yang berasal dari Nagan Raya atau yang dulunya dikenal daerah Seunagan. Teungku Putik anak dari seorang ulama bernama Teungku Abdurrasyid cucu dari Teungku Syekh Abdurrahim (Habib Nagan), dan cucu buyut dari Teungku Syekh Abdussalam.

Teungku Putik lahir di Cot Nigan daerah Seunagan pada tahun 1849. Besar di lingkungan masyarakat yang taat serta mencerminkan nilai-nilai keagamaan menjadikan watak dan kepribadian Teungku Putik teguh akan pendirian agama Islam sehingga kelak beliau juga berjuang melawan kolonial. Pada usia enam tahun Teungku Putik sudah lancar membaca Al Qur’an sehingga membuat Teungku Chik Di Killa tertarik dan membawanya untuk tinggal di dayah setelah kakeknya Teungku Syekh Abdurrahim (Habib Nagan) meninggal. Selama tiga tahun Teungku Putik tinggal di dayah dan beajar ilmu agama, pengetahuan, serta peperangan. Sejak saat itu Teungku Putik dikenal oleh masyarakat dengan pemuda yang memiliki ilmu agama dan pengtahuan serta diberi gelar “Teungku Putik”.

Teungku Putik merupakan sebutan atau gelar untuk seorang ulama yang masih muda. Teungku Putik berasal dari dua suku kata dalam bahasa Aceh, teungku berarti seseorang yang memiliki pengetahuan agama, dan putik yang berarti masih berusia sangat muda.

2. Jejak Perjuangan Teungku Putik
Setelah meninggalnya beberapa tokoh utama dari golongan ulama Seunagan, seperti Teungku Syekh Abdurrhim, Teungku Chik Di Killa, dan Teungku Abdurrasyid dakwah agama Islam di Seunagan dan Aceh Barat harus diteruskan oleh Teungku Putik yang pada saat itu masih berusia sangat muda. Di samping itu, beliau juga dipercaya oleh Uleebalang Seunagan untuk menjabat sebagai kadhi (hakim) untuk wilayah kenegerian Seunagan dan menikah dengan seorang putri dari Teuku Tuan di Nigan yang merupakan seorang saudagar lada. Sehingga selain berhasil melaksanakan dakwah Islam dengan mendirikan dayah, meuseujid (masjid), dan meunasah (madrasah), Teungku Putik juga berhasil untuk melanjutkan cita-cita mertuanya, yaitu memajukan pertanian dan perkebunan masyarakat.

Pada saat melaksanakan dakwah Islam, Teungku Putik sangat gigih berjuang menghapus dan memasukkan ajaran agama Islam ke dalam adat atau kebiasaan masyarakat. Selain itu, beliau menggerakkan masyarakat untuk meuseuraya (gotong-royong) dalam melakukan berbagai hal baik, seperti membangun masjid, irigasi (neulop), dan jalan-jalan. Selama melakukan pekerjaan sosial, bukan sedikit pengorbanan yang dikeluarkan Teungku Putik untuk pembangunan. Demikian pula karisma yang dimiliki telah membuat masyarakat mau menyumbang tenaga dan harta. Sehingga ketika perang Aceh menghadapi Belanda pecah pada tahun 1873, masyarakat juga ikut berjuang bersama Teungku Putik. Baca Selanjutnya (Bagian 2) >>>>

Sarekat Islam (SI)

8/08/2017 04:57:00 AM 0

 Sarekat Islam (SI)

Gambar Lambang Serikat Islam (SI) (Doc. Google)
Sarekat Islam dapat dipandang sebagai salah satu gerakan politik yang menonjol sebelum Perang Duni II. Layak kiranya jika organisasi ini perlu mendapat sorotan sendiri karena ia mengalami perkembangan yang cepat dan dinamis. Cepatnya perkembangan juga membawa cepatnya kemunduran yang hanya beberapa tahun setelah puncaknya. Berkurangnya pengaruh organisasi dan timbulnya pertentangan intern menyebabkan mengendurnya simpati masa (Korver, 1982:1).

Sarekat Islam didirikan pada tahun 1912 oleh H. Samanhudi, seorang pengusaha batik di Kampung Lawean, Solo yang mempunyai banyak pekerja. Perusahaan batik lainnya ada di tangan orang Cina dan Arab, dan mereka memproduksi batik dalam partai besar, sedangkan di sekitar perusahaan besar itu terdapat perajin kecil yang dilakukan di rumah-rumah penduduk dengan membatik dan membuat batik cap yang mulai populer pada waktu itu. Penasihat Urusan Bumiputra, Rinkers mengatakan bahwa ketika terjadinya bentrokan dengan polisi seorang Cina terbunuh. Akibatnya di Surabaya terjadi pemogokan para pedagang Cina yang melumpuhkan ekonomi. Ia menghubungkan peristiwa ini dengan kejadian di Surakarta karena di tempat itu terjadi persaingan antara pedagang Lawean dengan firma Sie Dian Ho, berdagang buku, alat kantor, dan bahan batik. Pemboikotan terhadap firma ini melahirkan Sarekat Islam (van der Xal, 1967:86-87).

Selanjutnya Korver berpendapat bahwa sudah sejak lama di Solo berdiri perkumpulan Cina-Jawa yang bernama Kong Sing. Anggotanya pengusaha Cina dan Jawa, termasuk H. Samanhudi. Pada tahun 1911, ketika terjadi revolusi di Cina terjadilah sikap yang merenggangkan hubungan mereka dengan orang Jawa. Hal ini juga merenggangkan hubungan sesama anggota Kong Sing sehingga anggota Kong Sing Jawa mendirikan Rekso Rumekso yang kemudian menjadi Sarekat Islam (Korver, 1982:21).

Jelas kiranya bahwa tujuan utama Sarekat Islam adalah menghidupkan kegiatan ekonomi pedagang Islam Jawa, yang diikat dengan agama. Meskipun dari salah satu sumber disebutkan bahwa tidak ada persaingan antara pedagang Cina dan Jawa, sebenarnya hal ini tidak akan mungkin tidak terjadi di dunia perdagangan. Perubahan tingkah laku dan arogansi merenggangkan hubungan sosial mereka. Keadaan seperti ini memperkuat dan mendorong mereka untuk menyatukan diri menghadapi pedagang Cina. Agama Islam digunakan dan faktor pengikat dan penyatu kekuatan pedagang Islam.

Tujuan utama Sarekat Islam untuk mengembangkan perekonomian berkali-kali ditekankan oleh pemimpin Sarekat Islam terkemuka, yaitu Umar Said Cokroaminoto. Ia adalah seorang orator yang cakap dan bijak, mampu memikat anggotanya. Dalam pidatonya pada rapat raksasa di Kebun Binatang Surabaya tanggal 26 Januari 1913, ia menegaskan bahwa tujuan Sarekat Islam adalah menghidupkan jiwa dagang Bangsa Indonesia, memperkuat ekonominya agar mampu bersaing dengan bangsa asing. Usaha di bidang ekonomi tampak sekali, khususnya dengan berdirinya koperasi di Kota Surabaya. Di kota itu pula berdiri PT. Setia Usaha, selain menerbitkan surat kabar Utusan Hindia, juga menyelenggarakan penggilingan padi, dan juga mendirikan bank. Usaha itu semua dimaksud untuk membebaskan kehidupan ekonomi dari ketergantungan bangsa asing (Sartono Kartodirjo, LS, 2, 1968:65).

Usaha meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa sendiri diterima dengan antusias oleh masyarakat lapisan bawah. Wong Cilik (masyarakat kecil) mendapat kesempatan untuk memperbaiki kehidupan yang sudah lama dinant-nantikan. Tidak salah kiranya jika Sarekat Islam mampu membaca keingan Wong Cilik yang menginginkan perbaikan upah kerja, sewa menyewa tanah, masalah-masalah yang berlaku di tanah partikelir, dan juga tingkah laku yang menyakitkan hati yang dilakukan para mandor dan kepala-kepala pribumi. Hal inilah yang merupakan kenyataan sebagai penderitaan rakyat yang harus diperbaiki. Maka tidak mengherankan kalau Sarekat Islam menjadi populer di kalangan rakyat bawah. Sarekat Islam segera meluas ke seluruh Jawa. Pada saat itu Cabang Jakarta mempunyai anggota 12.000 orang. Dalam rapat raksasa di Surabaya jumlah angggota bertambah menjadi 90.000 orang, terdiri dari 30.000 orang dari Cabang Solo, 16.000 dari Surabaya, 25.000 dari Jakarta, 23.000 dari Cirebon, dan 17.000 dari Semarang. Sementara itu telah ditolak sekitar 200.000 orang yang mendaftar diri sebagai anggota Sarekat Islam.

Dalam waktu kurang dari satu tahun Sarekat Islam sudah tumbuh menjadi organisasi raksasa. Karena itu pemerintah Hindia Belanda harus mencermati jejak Sarekat Islam yang dianggap membahayakan itu karena Sarekat Islam mampu memobilisasikan masa. Pada tahun 1914 anggota Sarekat Islam berjumlah 444.251 (Korver, 1982:225). Mengenai perkembangan yang cepat ini menimbulkan reaksi yang cepat pula dari pihak pemerintah. Gubernur Jenderal Idenburg (1909-1916) tidak menolak kehadiran Sarekat Islam dan muncul pertanyaan yang belum terjawab mengapa Sarekat Islam timbul dan cepat menjadi besar. Apa motivasi organisasi ini? Inilah yang menjadi tanda tanya besar Idenburg. Meskipun pada mulanya loyal pada pemerintah tetapi Sarekat Islam tetap tidak dapat dipercaya.

Mengapa reaksi terhadap makin luasnya keanggotaan Sarekat Islam itu, Idenburg berpendapat bahwa, menjadi jalangnya Sarekat Islam itu merupakan kenyataan bahwa orang bumiputra mulai memikirkan nasibnya dan inilah permulaan sadar dari tidurnya. Reaksi yang datang dari orang Belanda yang ketakutan di Eropa mengatakan bahwa Sarekat Islam identik dengan salah Idenburg. Sekiranya terjadi pembunuhan terhadap orang-orang Eropa oleh anggota Sarekat Islam maka itu merupakan bencana yang merupakan kesalahan Idenburg. Ditambah pula Belanda akan kehilangan jajahannya.

Kegelisahan timbul di kalangan pengusaha perkebunan sehingga di dalam surat kabar Soerabajasch Handlesbld dimuat iklan yang mencari opsir tentara Hindia Belanda yang sanggup memberi petunjuk bagaimana menjaga dan mempertahankan perusahaan perkebunan dan bangunan-bangunan lainnya. Perusahaan yang lain minta diberi izin untuk menggunakan senjata dan amunisi yang diambil dari gudang. Akan tetapi permintaan gila tidak diluluskan Idenburg.

Dari kalangan pangrehpraja berpendapat bahwa perkembangan Sarekat Islam harus diterima secara wajar, tetapi dipihak lain kehadirannya merupakan ancaman bagi keamanan dan ketertiban. Bupati yang progresif mengharuskan supaya pangrehpraja menduduki jabatan cabang Sarekat Islam. Sedangkan bupati yang konservatif akan menolak kehadiran Sarekat Islam dan dianggapnya mengurangi kewibawaannya dan mengancam kedudukannya.

Rinkes bersikap longgar terhadap Sarekat Islam, gerakan bumiputra memang sudah ada orang harus menerimanya, tetapi sebaiknya dengan jiwa dan sikap agung (van der Wal, 1967:215, 219). Bagi Idenburg, melarang begitu saja tidak ada gunanya, apalagi dengan tekanan dan penindasan. Jalan yang terbaik baginya adalah membuat kanalisasi, artinya mengurangi desakan kuat sehingga tidak timbul satu kekuatan besar yang dapat menghancurkan eksitensi kepada Sarekat Islam, sehingga organisasi ini leluasa menjalankan kegiatan tanpa ada hambatan dari pihak manapun. Idenburg hanya mau memberi badan humum pada cabang-cabang Sarekat Islam, sedangkan Central Sarekat Islam (CSI) baru akan diberikannya kemudian. Ini berarti bahwa hanya cabang lokal yang diakui secara resmi dan hubungan antara cabang dan koordinasi dari CSI diperlemah.

Dalam konsep Sarekat Islam tahun 1914 di Yogyakarta, Cokroaminoto terpilih sebagai pimpinan Sarekat Islam. Gejala konflik internal telah timbul di permukaan dan kepercayaan terhadap CSI mulai berkurang. Namun Cokroaminoto tetap mempertahankan keutuhan dengan mengatakan bahwa kecenderungan untuk memisahkan diri dari CSI harus dikutuk. Karenanya perpecahan harus dihindarkan, persatuan harus dijaga karena Islam sebagai unsur penyatu.

Politik kanalisasi dari Idenburg terbilang berhasil karena CSI baru diberi pengakuan badan hukum pada bulan Maret 1916 dan keputusan itu diberikannya pada waktu ia hampir berhenti dari jabatannya. Idenburg digantikan oleh Gubernur Jenderal van Strium (1916-1921) yang juga seperti pendahulunya bersikap simpatik terhadap Sarekat Islam. Dalam kongres tahunan yang diselenggarakan tahun 1916, Cokroaminoto secara panjang lebar menguraikan perlunya pemerintahan sendiri untuk rakyat Indonesia. Sementara itu persoalan pertahanan Hindia mulai banyak dibicarakan oleh golongan kolonial tertentu sehingga terbentuk Komite Pertahanan Hindia. Orang mengatakan bahwa Pertahanan Hindia ini berpengaruh terhadap proses kesadaran politik di Indonesia.

Pada Juni 1916 di Bandung diadakan kongres pertama yang dihadiri oleh 80 Sarekat Islam lokal yang meliputi 360.000 orang anggota. Kongres itu merupakan Kongres Nasional karena Sarekat Islam mencita-citakan supaya penduduk Indonesia menjadi satu natie atau satu bangsa dengan kata lain mempersatukan etnis Indonesia menjadi Bangsa Indonesia. Sudah disebut di atas bahwa Sarekat Islam setuju diadakannya Komite Pertahanan Hindia asal pemerintah membentuk Dewan Rakyat (Pringgodigdo, 1964:18).

Sebelum diadakanny Kongres Sarekat Islam kedua tahun 1917 di Jakarta, muncul aliran revolusioner sosialistis yang diwakili oleh Semaun yang pada waktu itu menjadi ketua Sarekat Islam lokal Semarang. Namun kongres itu tetap memutuskan azas perjuangan Sarekat Islam ialah mendapatkan zelf bestuur atau pemerintahan sendiri. Selain ditetapkan pula azas kedudukan kedua berupa Strijd tegen overheersing van het zonding kapitalisme atau perjuangan melawan penjajahan dari kapitalisme yang jahat (Pluvier, 1953:23). Sejak itu pula Cokroaminoto dan Abdul Muis mewakili Sarekat Islam dalam Dewan Rakyat.

Sudah disebut di muka bahwa keanggotaan Sarekat Islam terus meningkat dan itu terbukti dalam kongres tahun 1918 ketiga di Surabaya, anggotanya mencapai 450.000 yang berasal dari 87 Sarekat Islam lokal. Sementara itu pengaruh Semaun makin menjalar ke tubuh Sarekat Islam. Dikatakannya bahwa pertentangan yang terjadi bukan antara penjajah dan terjajah tetapi antara kapitalis dengan buruh. Karena itu perlu memobilisasikan kekuatan buruh dan tani, di samping tetap memperlakukan pengajaran dan penghapusan heerendiensten.

 Di dalam Kongres Sarekat Islam keempat tahun 1919, Sarekat Islam memperhatikan gerakan buruh atau Serikat Sekerja (SS), karena Serikat Sekerja akan memperkuat kedudukan partai politik dalam menghadapi pemerintahan kolonial. Kemudian terbentukalah Persatuan Serikat Sekerja yang beranggotakan Serikat Sekerja Pengadaian dan Serikat Sekerja Pegawai Pabrik Gula, dan Serikat Sekerja Pegawai Kereta Api.

Selanjutnya perubahan-perubahan dalam tubuh Sarekat Islam dapat dilihat dari kongres-kongresnya. Setelah terjadinya peristiwa Cimareme dan kasus Afdeling B. maka pada akhir tahun 1919 diselenggarakan Kongres Sarekat Islam keempat. Suasana kongres lesu namun sementara perjuangan Sarekat Islam tetap ditegakkan dengan landasan perjuangan antar bangsa, yang ini berarti perjuangan melawan pemerintahan kolonial harus terus dilakukan. Di dalam tahun itu pula pengaruh sosialis komunis telah masuk ke tubuh Sarekat Islam Pusat maupun cabang-cabangnya setelah aliran itu mempunyai wadah dalam organisasi yang disebutnya  Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV).

Pada Kongres Sarekat Islam kelima pada tahun 1921, Semaun melancarkan kritik terhadap kebijaksanaan Sarekat Islam Pusat sehingga timbul perpecahan. Di satu pihak aliran yang mendambakan aliran ekonomi dogmatis diwakili oleh Semaun dan aliran nasional keagamaan diwakili oleh Cokroaminoto. Kemungkinan dipersatukannya dua aliran itu ialah memformulasikan satu perjuangan Sarekat Islam menentang kapitalisme sebagai sebab utama timbulnya penjajahan. Jadi yang perlu ditentang adalah penjajahan yang disebabkan oleh tindakan kapitalis.

Rupanya gejala perpecahan semakin jelas dan dua aliran itu ternyata tidak dapat dipersatukan. Di dalam Kongres Sarekat Islam keenam yang diselenggarakan pada akhir tahun 1921 disetujui adanya disiplin partai. Sebagai akibat dilakukannya disiplin partai maka Semaun dikeluarkan dari Sarekat Islam karena berlaku ketentuan bahwa tidak diperbolehkannya merangkap dengan anggota partai lain. Dengan demikian terdapat dua aliran Sarekat Islam, yaitu 1) yang berazaskan kebangsaan-keagamaan berpusat di Yogyakarta dan 2) yang berazaskan Komunis berpusat di Semarang.

Kongres Sarekat Islam ketujuh yang diselenggarakan pada tahun 1923 di Madiun memutuskan bahwa Central Sarekat Islam diganti menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Selanjutnya ditetapkan berlakunya disiplin partai. Di pihak lain cabang-cabang Sarekat Islam yang mendapatkan pengaruh Komunis menyatakan dirinya bernaung dalam Serikat Rakyat yang merupakan bangunan bawah Partai Komunis Indonesia (PKI).

Azas perjuangan Partai Sarekat Islam adalah nonkooperasi, artinya organisasi itu tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial, tetapi organisasi itu mengizinkan anggotanya duduk dalam Dewan Rakyat atas nama diri sendiri. Kongres PSI 1927, menegaskan azas perjuangan bahwa tujuannya adalah mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan agama Islam. Karena tujuannya dinyatakan dengan tegas tentang kemerdekaan nasional maka Parai Sarekat Islam menggabungkan diri dalam Pemufakatan Perhimpunan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Nama Partai Sarekat Islam dengan Indonesia untuk menunjukkan tujuan perjuangan kebangsaannya dan kemudian namanya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1927. Perubahan nama itu dapat dikaitkan dengan datangnya dr. Sukiman dari Belanda.

Di dalam organisasi Partai Sarekat Islam Indonesia terjadi perbedaan pendapat yang di satu  pihak diwakili oleh Cokroaminoto menekankan perjuangan kebangsaan. Di pihak lain dr. Sukiman keluar dari organisasi lama dan mendirikan Partai Islam Indonesia (Parii). Rupanya perpecahan itu dipandang melemahkan Partai Islam Indonesia (PII) atau perjuangan Islam maka akhirnya dua lairan itu dapat dipersatukan kembali pada tahun 1937. Persatuan dalam Partai Sarekat Islam Indonesia hanya berlangsung singkat karena dr. Sukiman memisahkan diri lagi yang diikuti Wiwoho, Kasman Singodimejo, dan lain-lain.

Pada tahun 1940 Kartosuwiryo mendirikan Partai Sarekat Islam Indonesia Kartosuwiryo setelah keluar dari Partai Sarekat Islam Indonesia yang lama. Pada saat Jepang mendarat di Indonesia, kekuatan Islam terpecah menjadi beberapa aliran Partai Sarekat Islam Indonesia Abikusno, Partai Sarekat Islam Indonesia Kartosuwiryo, Partai Islam Indonesia (Parii) dr. Sukiman. Semua aliran itu tidak berdaya pada masa pendudukan Jepang yang melarang kehidupan partai politik di Indonesia.

Dikutip dari:
Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasional (Dari Budi Utomo sampai Proklamasi (1908-1945)). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Editor